TOPIK
FORUM 4
Iklim
dan budaya sekolah adalah penting untuk memacu kecemerlangan sekolah.
Bagaimanakah anda sebagai pemimpin mempastikan budaya sekolah cemerlang
diamalkan oleh warga sekolah anda?
1.0 Pendahuluan
Setiap organisasi
mempunyai keunikan budaya atau nilai
tersendiri dimana ia membezakan satu organisasi dengan organisasi lain. Budaya
adalah suasana sekeliling tempat kerja setiap masa. Budaya adalah elemen
penting untuk membentuk kegembiraan semasa bekerja, hubungan kerja dan proses
kerja. Mewujudkan budaya kerja cemerlang adalah impian setiap pemimpin
organisasi kerana budaya kerja adalah
salah satu komponen yang menyumbang kepada kecemerlangan dan kejayaan dalam
mencapai matlamat organisasi. Untuk membangunkan budaya organisasi yang
cemerlang memerlukan masa yang panjang dan bertahap kerana budaya yang telah wujud telah menjadi
sebahagian dari kehidupan warga kerja. Untuk mencipta budaya yang baru dan
tersendiri memerlukan pemimpin yang berkesan dan mampu mempengaruhi warga
organisasi untuk menerapkan nilai-nilai yang ingin di wujudkan. Pemimpin itu
sendiri perlu mempunyai karakter yang boleh dicontohi dan dihormati. Dengan
kata lain ia memerlukan pemimpin moral
dan transformasional untuk mengubah budaya. Budaya organisasi sangat penting
serta memiliki manfaat baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap
perkembangan organisasi, terutamanya dalam kancah persaingan yang semakin
sengit.
Organisasi
boleh didefinisikan sebagai satu kumpulan orang yang bekerja bersama untuk
mencapai satu tujuan yang sama. Budaya pula wujud apabila ahli kumpulan
mempunyai nilai dan gelagat yang dikongsi
bersama apabila menangani sesuatu situasi. Budaya organisasi yang terbentuk samada positif atau negatif tidak
disedari oleh ahli organisasi itu sendiri kerana ia sudah sebati dan telah menjadi norma dalam organisasi.
Budaya adalah sesuatu yang kita tidak boleh lihat kecuali melaluinya sendiri.
2.0 Definisi budaya organisasi.
Sebelum seseorang pemimpin dapat
mengubah budaya organisasi, seharusnya
beliau memahami apakah elemen-elemen yang membentuk budaya itu. Ini akan
memudahkan seseorang pemimpin memberi fokus kepada elemen yang lemah untuk
diperbaiki dan menambah elemen yang masih tidak wujud di dalam budaya organisasi
tersebut.
Definisi-definisi
awal budaya organisasi:
1. “the integrated pattern of human behavior
that included thought, speech, action, and artifacts and depends on man’s
capacity for learning and transmitting knowledge to succeeding generation”
– Terrence E. Deal dan Allan A. Kennedy.
2. Glaser pula menyatakan bahawa budaya
organisasi seringkali digambarkan dalam erti yang dimiliki bersama. Pola-pola
dari kepercayaan, simbol-simbol, ritual-ritual dan mitos-mitos yang berkembang
dari waktu ke waktu dan berfungsi sebagai pelekat yang menyatukan organisasi.
Beraneka ragamnya bentuk organisasi, sudah tentunya mempunyai budaya yang berbeza-beza.
3. Schein (1996) mendefinisikan budaya
organisasi sebagai wujud anggapan yang dimiliki, diterima secara implisit oleh
kelompok dan menentukan bagaimana kelompok tersebut rasakan, fikirkan, dan
respon terhadap lingkungannya yang beraneka ragam. Dari definisi ini, menyoroti
tiga karakteristik budaya organisasi yang penting, yaitu pertama : budaya
organisasi diberikan kepada para karyawan baru melalui proses sosialisasi.
Kedua, budaya organisasi mempengaruhi perilaku di tempat kerja, dan ketiga,
budaya organisasi berlaku pada tingkat yang berbeza.
4. Cushway B dan Lodge D, hubungan budaya dengan
budaya organisasi, bahawa “budaya organisasi adalah suatu kepercayaan dan
nilai-nilai yang menjadi falsafah utama yang dipegang teguh oleh anggota
organisasi dalam menjalankan atau mengoperasionalkan kegiatan organisasi”.
5. Manakala Schemerhom, Hurn dan
Osborn, mengatakan “budaya organisasi adalah suatu sistem penyebaran keyakinan
dan nilai-nilai yang dikembangkan di dalam suatu organisasi sebagai pedoman
perilaku anggotanya”.
6. Tunstal dalam Wirawan (2007)
mendefinisikan, budaya organisasi adalah suatu kepercayaan, kebiasaan, nilai,
norma perilaku, dan cara melakukan perniagaan yang unik bagi setiap organisasi
yang mengatur pola aktiviti dan tindakan
organisasi, serta melukiskan pola implisit, perilaku, dan emosi yang muncul
yang menjadi karakteristik dalam organisasi.
7. Adapun menurut Elridge dan Crombie
dalam Wirawan (2007) mendefinisikan, suatu budaya organisasi menunjukan
konfigurasi unik dari norma, nilai, kepercayaan, dan cara-cara berperilaku yang
memberikan karakteristik cara kelompok dan individu bekerja sama untuk menyelesaikan
tugasnya.
8. Definisi lebih luas, disampaikan
oleh Schein (2004) sebagai : “A pattern of shared basic assumptions that the
group learned as it solved its problems of external adaptation and internal
integration that has worked well enough to be considered valid and, therefore,
to be taught to new members as the correct way to perceive, think, and feel in
relation to those problems.
3.0 Unsur-unsur Budaya
Kesimpulan dari kesemua definisi tersebut, berikut
adalah unsur-unsur yang terdapat dalam budaya:
1. Ilmu
Pengetahuan
2. Kepercayaan
3. Seni
4. Moral
5. Hukum
6. Adat-istiadat
7. Perilaku/kebiasaan (norma) masyarakat
8. Asumsi dasar
9. Sistem Nilai
10. Pembelajaran/Pewarisan
11. Masalah adaptasi eksternal dan integrasi internal
2. Kepercayaan
3. Seni
4. Moral
5. Hukum
6. Adat-istiadat
7. Perilaku/kebiasaan (norma) masyarakat
8. Asumsi dasar
9. Sistem Nilai
10. Pembelajaran/Pewarisan
11. Masalah adaptasi eksternal dan integrasi internal
4.0 Budaya sekolah
Di sekolah seperti
organisasi yang lain terjadi interaksi yang saling mempengaruhi antara individu
dengan lingkungannya, baik lingkungan fisikal maupun sosial. Lingkungan ini
akan dipersepsi dan dirasakan oleh individu tersebut sehingga menimbulkan kesan
dan perasaan tertentu. Dalam hal ini, sekolah harus dapat menciptakan suasana
lingkungan kerja yang kondusif dan menyenangkan bagi setiap anggota sekolah,
melalui berbagai penataan lingkungan, baik fisikal maupun sosialnya.
Moh. Surya (1997)
menyebutkan dalam Daud ( 2007 ) bahawa:
“
Lingkungan kerja yang kondusif baik lingkungan fisik, sosial maupun psikologis
dapat menumbuhkan dan mengembangkan motif untuk bekerja dengan baik dan
produktif. Untuk itu, dapat diciptakan lingkungan fisik yang sebaik mungkin,
misalnya kebersihan ruangan, susun atur, prasarana dan sebagainya. Demikian
pula, lingkungan sosial-psikologis, seperti hubungan antara peribadi, kehidupan
kelompok, kepemimpinan, pengawasan, promosi, bimbingan, kesempatan untuk maju,
kekeluargaan dan sebagainya.
Dari berbagai definisi yang dihuraikan di atas dapat disimpulkan bahawa budaya organisasi dan budaya sekolah merupakan suatu kepercayaan, nilai, norma perilaku yang diterima dan disosialisasikan secara berkesinambungan sebagai pembentuk karakteristik organisasi dalam menghadapi tentangan / adaptasi eksternal dan integrasi internal. Budaya dilihat seperti personality yang dibentuk dari nilai, kepercayaan, asumsi, minat, pengalaman, didikan dan habit yang membentuk tingkahlaku warga kerja.
5.0 Lima asas pengkelasan budaya sekolah.
Dengan mengenalpasti kategori sekolah tersebut akan memudahkan
pemimpin mengubah budaya sekolah. Berikut adalah lima kategori budaya sekolah
menurut Stoll& Fink.
Stoll
& Fink’s (1996) Five Basic Classifications of School Culture
1.
Moving Schools
are very effective.
The people in them actively work together to respond to their changing context,
and to keep developing. They know where they are going and possess the will,
structure, and skill to get there.
2.
Cruising Schools - Have many
qualities of an effective school. They are generally perceived as effective by
teachers, administrators, and the surrounding community. They are usually
located in higher SES areas where pupils achieve despite the quality of
teaching. Students score well on standardized measures when compared with the
population at large, though not necessarily well against other students of
similar economic backgrounds. ‘These are good schools if it were 1965’, but
they are not seeking to prepare students for a changing information age society
and are doing students and society a disservice.
3.
Strolling
Schools
are neither particularity effective or
ineffective. Efforts are made towards improvements, but at an inadequate
pace. They have ill-defined and sometimes conflicting aims. These are average
schools that seem to be meandering into the future. Strolling schools often
require stimulation from an outside source.
4.
Struggling
Schools are ineffective and they know it. They have the will to improve, but
lack the direction or the skill. They will try anything (and often already
have). These schools benefit the most from outside consultants.
5.
Sinking Schools
are ineffective schools, often found in lower SES areas. The staff is,
either out of apathy or ignorance, making no effort toward change. The
curriculum at these schools is undemanding and the teachers explain away
failure by blaming it on the home-life of the students. Such a school culture
is incapable of repair. The school should be closed to allow this harmful
culture to die out. Later another school with a new name, new faulty, etc. can
be reopened on the same location.
Kategori budaya
sekolah yang telah dikenalpasti dianalisa dengan teliti dan
pendekatan-pendekatan yang sesuai boleh diambil dan dilaksanakan secara
berdiplomasi supaya warga organisasi tidak memberi tentangan yang kuat dimana
ia mungkin akan menggagalkan usaha pemimpin sekolah tersebut. Pemimpin sekolah
tidak perlu gopoh untuk mengubah budaya organisasi kerana budaya adalah sesuatu
yang kompleks. Ia melibatkan kepercayaan dan nilai yang di pegang sebagai panduan
untuk melakukan sesuatu tindakan atau membuat keputusan.
Budaya terbentuk
apabila warga organisasi mempunyai tatacara atau mengambil tindakan yang sama
apabila berhadapan dengan situasi yang sama. Dari itu pemimpin perlu
berhati-hati dan tidak agresif apabila ingin membentuk budaya baru.
6.0 Karakteristik
budaya untuk tempat kerja yang ideal.
Sebagai pemimpin, saya akan memberi fokus
kepada10 dimensi iklim sekolah ( berdasarkan model dari Organizational
Health Inventory) iaitu fokus matlamat, adaptasi, komunikasi,
kejelekitan, morale, inovatif, autonomi, kebijaksanaan penyelesaian masalah, keseimbangan
kuasa optimal dan penggunaan sumber.
i. Berkongsi dan fokus Matlamat
Matlamat dan halatuju organisasi akan di nyatakan dalam sesi perjumpaan kali pertama bersama guru-guru, staf dan pelajar. Matlamat ini perlu dijelaskan supaya dapat difaham, membentuk keyakinan dan akhirnya dapat dimanifestasikan dalam bentuk perkataan dan tindakan. Pemimpin ibarat nakhoda kapal yang akan menentukan destinasi mereka. Tindakan seterusnya ialah dengan memberikan sokongan-sokongan dalam bentuk verbal, tindakan dan keputusan yang memudahkan laluan untuk aktiviti-aktiviti yang dirancang oleh warga organisasi kearah mencapai matlamat organisasi. Penggunaan sumber dengan bijak kearah usaha mencapai matlamat juga dilihat sebagai sokongan secara tidak langsung.Sebagai pemimpin yang ingin melihat amalan budaya cemerlang berada dalam hati setiap individu, saya juga perlu menunjukkan contoh amalan cemerlang dalam setiap aktiviti yang saya lakukan supaya ia boleh memberi motivasi dan dihormati oleh semua warga. Apabila ini berlaku ia juga menunjukkan kejujuran dan kesungguhan pemimpin untuk mencapai matlamat sekolah serta menanamkan nilai-nilai yang perlu ada untuk menjadi cemerlang. Apabila setiap individu itu cemerlang, organisasi juga akan menjadi cemerlang akhirnya.
Komunikasi yang baik adalah umpama minyak pelincir untuk menggerakkan jentera-jentera dalam organisasi. Dari itu komunikasi dua hala perlu berlaku untuk mempastikan pemimpin tidak syok sendiri dengan matlamat yang dirangka. Pandangan warga yang berada dibawah juga diambilkira kerana untuk cemerlang, organisasi memerlukan pasukan untuk berkerja bersama-sama pemimpin. Komunikasi yang telus dengan guru-guru terutamanya dapat membina hubungan yang ikhlas antara dua pihak dan akan mewujudkan kejelekitan dikalangan warga organisasi. Komunikasi yang berkesan adalah amalan cemerlang yang patut menjadi budaya dalam organisasi.
ii. Budaya pembelajaran sepanjang hayat.
Organisasi pembelajaran perlu diwujudkan dalam semua organisasi untuk menjadi cemerlang dan sentiasa menjadi relevan dalam semua era. Budaya pembelajaran perlu ada dalam setiap warga organisasi kerana ignorance is primarily a change barrier. Dengan ilmu baru yang diperolehi, setiap individu akan berpeluang meningkatkan kemahiran dan berinovatif serta minda akan lebih terbuka kepada perubahan kerana mereka tahu mengapa ia perlu dilaksanakan. Ramai pekerja pada masakini berhenti belajar apabila mereka memasuki alam pekerjaan. Begitu juga dengan sebilangan guru-guru yang mengalami situasi sebegini dan mereka menjadi pekerja yang burnt out sebelum masanya. Dari itu saya sebagai pemimpin akan cuba mewujudkan budaya pembelajaran dikalangan warga sekolah dan menjadikan mereka individu yang mencintai ilmu. Kemudahan-kemudahan yang diperlukan untuk menimba ilmu disediakan seperti menambah bilangan buku di pusat sumber, mengendalikan kursus profesionalsime, menghantar guru menghadiri seminar atau persidangan ilmiah dan juga menyokong guru untuk melanjutkan pelajaran keperingkat yang lebih tinggi. Saya sebagai pemimpin juga akan berkongsi ilmu dengan semua warga guru contohnya dalam sesi profesionalisme, dengan pelajar semasa perhimpunan bulanan dan staf semasa perjumpaan mingguan. Budaya ilmu ini akan bermula dari pemimpin organisasi itu sendiri dengan menunjukkan contoh pencinta ilmu. Saya percaya dengan adanya budaya ilmu dalam organisasi, warga organisasi akan mudah mengadaptasi dengan situasi baru dan lebih mencabar dan akhirnya akan menjadi pekerja cemerlang dan dapat menghasilkan pelajar yang lebih berkualiti.
iii. Menghargai kejayaan/sumbangan
Penghargaan kepada warga organisasi yang telah menyumbang kepada kecemerlangan organisasi patut menjadi amalan. Setiap pekerja memerlukan pengiktirafan dalam hidup mereka supaya mereka akan merasa puas hati dan dihargai. Apa jua bentuk penghargaan sedikit sebanyak akan meningkatkan morale pekerja untuk sentiasa cemerlang dan memperbaiki diri. Kepercayaan yang diberi kepada mereka untuk bergerak secara autonomi juga merupakan suatu pengiktirafan kepada mereka yang cemerlang. Malah warga yang cemerlang juga diberikan kuasa berdasarkan kapasiti mereka untuk melaksanakan sesuatu tindakan. Budaya harga menghargai ini akan mewujudkan budaya hormat menghormati dan secara tidak langsung akan mewujudkan pertandingan sihat antara individu.
iv. Akauntabilty
Ini dimulakan dengan pengurusan atasan mengambil tanggungjawab atas setiap keputusan yang dibuat. Apabila ini berlaku tiada yang menuding jari untuk menyalahkan orang lain atas kesilapan yang berlaku. Penyelesaian masalah dilakukan dengan bijak dan tidak mudah mengalah dengan tekanan dari dalam dan luar. Pandangan semua pihak diambilkira dan keputusan dibuat secara kolektif. Perasaan ownership yang wujud akan membuat semua warga berasa bertanggungjawab atas kegagalan organisasi. Kecil atau besarnya kesilapan yang berlaku, kebertanggungjawaban akan dikongsi bersama kerana kami adalah satu pasukan.
Secara
keseluruhannya, amalan kecemerlangan yang saya bincangkan diatas adalah
perkara-perkara utama yang saya akan lakukan jika saya dipilih untuk menjadi
pemimpin. Always begin with the END in
mind dan knowledge will rule adalah
antara moto hidup saya sebagai pemimpin.
Nota:maaf sumber rujukan tidak dapat disertakan.
No comments:
Post a Comment